5 Perbedaan Hot Pot China dan Shabu-shabu Jepang – Kuliner Asia Timur menawarkan pengalaman makan yang unik, terutama melalui sajian rebusan seperti hot pot China dan shabu-shabu Jepang. Meski sama-sama menyajikan daging dan sayuran yang dimasak langsung di meja, keduanya memiliki perbedaan mencolok. Oleh karena itu, memahami karakter masing-masing hidangan menjadi penting, terutama bagi pencinta kuliner. Selain itu, perbedaan tersebut tidak hanya terletak pada bahan, tetapi juga filosofi rasa, kuah, hingga cara menikmatinya.
1. Warna dan Karakter Kuah Sangat Berbeda
Perbedaan paling mudah dikenali muncul dari warna kuah. Hot pot China dikenal dengan kuah yang mencolok, terutama varian mala yang berwarna merah pekat. Warna tersebut berasal dari cabai kering, minyak cabai, dan lada Sichuan. Akibatnya, kuah terlihat berani sekaligus menggugah selera.
Sebaliknya, shabu-shabu Jepang menggunakan kuah bening yang tampak sederhana. Biasanya, kuah dibuat dari kombu atau kaldu ringan tanpa bumbu kuat. Dengan demikian, warna kuah cenderung jernih dan tidak mencolok.
Baca Juga: 7 Manfaat Makan Sushi untuk Kesehatan dan Kecerdasan Otak
2. Tingkat Rasa dan Kepedasan Kontras
Selain warna, rasa menjadi pembeda utama. Hot pot China menawarkan sensasi pedas, gurih, dan terkadang kebas di lidah. Rasa tersebut muncul karena penggunaan rempah intens yang mendominasi kuah. Oleh sebab itu, hot pot sering dianggap sebagai hidangan penuh tantangan rasa.
Di sisi lain, shabu-shabu mengedepankan rasa ringan dan bersih. Jepang menekankan kesegaran bahan, sehingga kuah hanya berfungsi sebagai media pemanas. Setelah itu, rasa utama justru berasal dari saus celupan seperti ponzu atau goma.
3. Jenis Bumbu dan Rempah yang Digunakan
Hot pot China menggunakan beragam bumbu kuat, mulai dari bawang putih, jahe, kayu manis, hingga bunga lawang. Kombinasi ini menciptakan aroma tajam dan khas. Karena itu, pengalaman makan terasa lebih kompleks dan berlapis.
Sementara itu, shabu-shabu Jepang hampir tidak menggunakan rempah berat. Jepang lebih memilih kesederhanaan dan keseimbangan rasa. Dengan pendekatan tersebut, kualitas daging dan sayuran menjadi pusat perhatian.
4. Cara Menikmati dan Filosofi Makan
Perbedaan berikutnya terletak pada cara menikmati hidangan. Hot pot China biasanya di nikmati bersama-sama dengan tempo santai dan suasana ramai. Proses memasak sering berlangsung lama, sambil menambahkan berbagai bahan secara bertahap. Oleh karena itu, hot pot identik dengan kebersamaan dan kehangatan sosial.
Sebaliknya, shabu-shabu menekankan kecepatan dan ketepatan. Daging di iris sangat tipis lalu di celupkan sebentar ke kuah panas. Proses ini mencerminkan filosofi Jepang yang menghargai kesederhanaan, efisiensi, dan keindahan dalam detail kecil.
5. Fokus Bahan Utama yang Berbeda
Hot pot China cenderung fleksibel dalam pilihan bahan. Selain daging, tersedia jeroan, bakso, tahu, hingga mie khusus. Variasi tersebut membuat satu meja penuh warna dan tekstur berbeda.
Namun, shabu-shabu Jepang lebih fokus pada kualitas daging, terutama daging sapi premium. Irisan tipis daging menjadi bintang utama hidangan. Dengan fokus tersebut, setiap gigitan terasa lembut dan alami.
Kesimpulan
Secara keseluruhan, hot pot China dan shabu-shabu Jepang menawarkan pengalaman makan yang sama-sama menarik, namun dengan pendekatan berbeda. Hot pot tampil berani dengan kuah mencolok dan rasa kuat. Sebaliknya, shabu-shabu hadir tenang dengan kuah bening dan filosofi kesederhanaan. Oleh karena itu, pilihan terbaik bergantung pada selera dan suasana yang di inginkan. Jika Anda menyukai sensasi kuat dan ramai, hot pot menjadi pilihan tepat. Namun, jika Anda mencari ketenangan rasa dan keseimbangan, shabu-shabu layak di coba.
